Pengalaman Pribadi! Cara Mengikhlaskan Anak Yang Sudah Meninggal

Kehilangan buah hati yang sangat kita sayangi memang sangat menyedihkan bagi semua orang tua termasuk saya, pengalaman pribadi saya sedih rasanya, dunia seakan-akan runtuh seperti tersambar petir, ingin rasanya menangis sekencang-kencangnya, makan tidak nafsu melakukan aktifitas apapun rasanya enggan.

Hidupun menjadi tidak semangat karena selalu teringat anak yang sudah meninggal dunia, tetapi kita juga tidak boleh terus-terusan dalam kesedihan, jalan hidup masih panjang. Kita hidup didunia memang sebentar karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

Dibawah ada beberapa tips yang saya lakukan selama ini agar bisa move one dari kehilangan anak, bisa kuat, semangat menjalani hidup dan tidak selalu teringat dengan hal-hal yang membuat kita sedih.

Advertisement

Cara Cepat Mengikhlaskan Anak Yang Sudah Meninggal

Pengalaman Pribadi! Cara Mengikhlaskan Anak Yang Sudah Meninggal

pixabay.com

Agar kita tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan yaitu salah satunya kita harus bisa mengikhlaskan dan menerima takdir, memang untuk mengikhlaskan itu sangat susah apalagi hal ini menyangkut kehilangan buah hati yang sangat kita sayangi.

Beberapa bulan setelah anak kedua meninggal rasanya sulit untuk ikhlas meski ucapan saya sudah ikhlas nyatanya dalam hati masih ada rasa sesak jika mengingatnya.

Tetapi saya mencoba belajar perlahan demi perlahan meski awalnya sulit, kita harus belajar untuk ikhlas karena ikhlas itu bukan hanya dikatakan lewat ucapan tapi benar-benar tulus dari dalam hati dan kita harus bisa menerima semua yang telah Allah SWT tetapkan.

1. Sholat

Pokuslah dengan musahabah diri, selalu mengerjakan sholat tepat pada waktunya dan semata-mata untuk mendekatkan diri pada Allah yang sudah menciptakan kita, tanamkan dalam hati hidup dan mati ku hanya untuk Allah, setiap saat mengingat Allah dan meminta ampunlah pada Allah insya allah hati akan terasa tenang.

2. Selalu Berdoa

Perbanyaklah berdoa pada Allah, merengeklah curahkan apapun yang kita rasakan memohonlah pada Allah karena sesungguhnya Allah sangat mencintai hambanya yang ingin tobat dan meminta pertolonganlah kepada Allah cukup Allah menjadi penolong satu-satunya, mintalah ketenangan dalam hati, jiwa, batin dan pikiran.

3. Perbanyak dzikir

Ketika habis menunaikan sholat dan berdoa, perbanyaklah dengan berdzikir karena dengan berdzikir hati kita akan merasa tenang.

4. Sibukkan dengan membaca Qur’an

Ketika perasaan sedang galau, gelisah, sedih dan tidak tenang cepatlah ambil wudhu dan bacalah al-Qur’an karena dengan kita membaca ayat suci Al-Qur’an semua kegelisahan yang kita rasakan akan hilang dan timbullah rasa kenyamanan dan ketenangan hati, jadikanlah Al-Qur’an itu sebagai sahabat kita di dunia karena kelak di akherat Al-Quran bisa menjadi syafaat bagi pembacanya.

 5. Majelis ilmu

Dengan menyibukkan diri mengikuti majelis ilmu, karena ketika kita keluar rumah melangkahkan kaki dengan niat untuk menuju majelis ilmu pahalanya sangat besar, bukan hanya itu saja majelis ilmu itu adalah obat dari semua permasalahan hidup, insya allah sesudah pulang dari kajian hati kita akan menjadi tenang.

Di majelis ilmulah kita akan lebih mengetahui dan memahami ilmu-ilmu agama yang tadinya kita tidak tahu menjadi tahu, bahkan dengan belajar ilmu agama kita jadi tahu keutamaan bayi atau anak yang meninggal sebelum baligh bisa memberikan safaat pada kedua orang tuanya, dari situ kita akan lebih mudah untuk mengikhlaskannya.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa Allah memberikan pahala istimewa bagi para orang tua yang anaknya meninggal sebelum baligh. Dengan syarat, orang tua tetap bersabar dan ridha kepada keputusan Allah.

Dalam hadis dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ماتَ ولدُ العَبْدِ ، قالَ اللهُ لمَلَائِكَتِهِ : قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ: قَبَضْتُم ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ : مَاْذَا قالَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُولُونَ : حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ . فَيَقُولُ اللّهُ : ابْنُوا لِعَبْدِيْ بَيْتًا فِيْ الجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بيتَ الحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?‘ Malaikat menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun‘. Kemudian Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian)‘.” (HR. Tirmidzi 1037, Ibu Hibban 2948 dihasankan al-Albani)

Dalam riwayat yang lain, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَمُوتُ لِمُسْلِمٍ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ فَيَلِجُ النَّارَ إِلاَّ تَحِلَّةَ الْقَسَمِ

“Jika ada seorang muslim yang tiga anaknya meninggal, maka dia tidak akan masuk neraka. Kecuali karena membenarkan sumpah.” (HR. Bukhari 1251 dan Ahmad 7265).

Dalam riwayat yang lain dinyatakan,

لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ

“Selama anak itu belum baligh.” (HR. Bukhari 1248)

Kemudian, dalam riwayat lain, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ ، إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

“Tidaklah seorang muslim yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, yang belum baligh, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan rahmat yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Bukhari 1248 dan Nasai 1884)

Kemudian, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ ، أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang ditinggal mati tiga anaknya yang belum baligh, maka anak itu akan menjadi hijab (tameng) baginya dari neraka, atau dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari – bab 91)

Termasuk bayi keguguran, yang meninggal dalam kandungan,

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّ السِّقْطَ لَيَجُرُّ أُمَّهُ بِسَرَرِهِ إِلَىْ الجَنَّةِ إِذَا احْتَسَبَتْهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan ari-arinya APABILA IBUNYA BERSABAR (atas musibah keguguran tersebut).” (HR Ibnu Majah 1609 dan dihasankan al-Mundziri serta al-Albani)

Sungguh istimewa pahala bagi orang tua yang bersabar atas musibah meninggalnya anaknya. Tahukah bunda Allah SWT mengambil anak kita itu ternyata bukti rasa sayangnya terhadap hambanya, namun terkadang kita tidak menyadarinya karena kita masih terbalut dengan kesedihan itu.

Allahu a’lam, semoga tips dari saya bisa bermanfaat dan membantu kisah diatas merupakan pengalaman pribadi saya dalam mengikhlaskan anak yang sudah meninggal ketika itu tanggal 23 Juni 2019 dalam usia 1 tahun 2 bulan.

Leave a Reply